1
G A R U T “ L A N G I T K U R UMA H K U”
Garut “Langitku Rumahku”
Oleh: YOYO DASRIYO
BIAR saja, “Angin Tak Dapat Membaca”, namun serangkaian judul film
nasional jadi “Aksara Tanpa Kata”, yang menyuarakan “Cinta Anak Zaman”
tentang Garut. Itu sebabnya, merangkai 232 judul film dan 24 sinetron, ibarat
“Surat Untuk Bidadari” yang berisi “Pesan Dari Surga”. Indah seperti
“Busana Dalam Mimpi”, tapi sendu bagai kisah “Semalam Di Malaysia”.
Benar “Saur Sepuh”, “Badai Pasti Berlalu”! Lalu, “Bila Saatnya Tiba” Garut
berucap “Selamat Tinggal Duka”? “Perempuan Berkalung Sorban” pun tak
pernah tahu, jika Garut bisa “Senyum Di Pagi Bulan Desember”, hingga
Pilkada Cabup/Cawabup Garut 2009-2014 jadi “Kenangan Desember” untuk
“Merenda Hari Esok”.
Garut yang penah terjerat “Lingkaran Setan”, kini punya “Doea Tanda Mata”
dari Pilkada. Lahir duet pemimpin baru, Aceng Kholik Fikri dan R Dicky
Chandranegara. Mereka ibarat “Laki-Laki Pilihan”, yang terpilih sebagai
Bupati/ Wakil Bupati Garut. Sejak zaman “Nyi Ronggeng” dan “Penunggang
Kuda Dari Cimande” hingga “Matinya Seorang Bidadari”, baru kali ini
pelantikan jabatan itu digelar di Gedung DPRD Garut. Itu “Kehormatan”
bersimbol “Embun Pagi” yang jangan bermakna “Setetes Kasih Di Padang
Gersang”,tapi mencairkan “Kristal-Kristal Cinta” bagi kebangkitan Garut.
Meski hadir “Seputih Hatinya, Semerah Bibirnya”, tapi mereka “Seputih
Kasih Semerah Luka” membaca keberadaan Garut, yang tak seindah “Intan
Perawan Kubu”. Jabatan pun dijemput “Jalan Makin Membara”, akibat
banyak orang terbius “Enak Benar Jadi Jutawan” melalui “Pintu Terlarang”
tanpa kenal “Pengorbanan”. Orang “Cas-Cis-Cus” bagai “Dunia Tanpa
Koma”, membincang “Napsu Serakah” dan “Semau Gue” yang menikam
2
G A R U T “ L A N G I T K U R UMA H K U”
wajah Garut bak “Bidadari Yang Terluka”! Badai korupsi memanas seolah
“Kiamat Sudah Dekat”.
Itu tingkah insan “Bernapas Dalam Lumpur”, yang membiarkan “Derita
Tiada Akhir”! Keindahan “Kemilau Kemuning Senja” yang memayungi
Garut, berbekas hamparan “Kembang Ilalang” sehabis bencana “Zig-Zag”
dari aksi “Angkara Murka”! Duet baru pemimpin daerah memahami, Garut
bukan lagi “Permata Biru” yang indah. Agaknya itu “Secangkir Kopi Pahit”
di awal jabatan. Namun mereka tak menuduh semua “Karena Dia” atau akibat
“Ayahku”, yang memilih korupsi “Hanya Satu Jalan” untuk kesenangan
pribadi.
Mereka pun tak berucap “Aku Benci Kamu”! Justru bertekad mengobarkan
“Lampu Merah” untuk korupsi di Garut. Semoga itu mampu memupus
“Sejuta Duka Ibu”, hingga ke tingkat “Pengemis Dan Tukang Becak”! Walau
begitu, semua yang “Cinta Anak Zaman”, serentak memburu “Tiga Buronan”.
Mereka tak rela Garut bernasib “Pacar Ketinggalan Kereta”, selepas janji
“Arini, Masih Ada Kereta Yang Lewat”! Kini “Biarkan Kereta Itu Lewat”
dari sejarah, karena “Kereta Api Terakhir” di Garut tercatat tahun 1984.
Lalu, “Angkot Haji Imron” beroperasi, hingga banyak “Taxi” beraksi! Tapi
saat Garut ibarat “Serpihan Mutiara Retak”, tangis warga seperti “Telaga Air
Mata”. Atas “Kuasa Illahi”, semua “Tokoh” sentral “Di Balik Pintu Dosa”
terjaring. Tiada lagi kekuatan “Satria Baja Hitam”. Mereka “Dikejar Dosa”!
Takut “Rahasia Illahi” yang “Tiada Maaf Bagimu”. Karena, “Hidup Tanpa
Kehormatan” laksana “Perisai Kasih Yang Terkoyak”. Lebih menyeramkan
dari “Hantu Ambulance” di “Terowongan Rumah Sakit”, atau “Kuntilanak”
yang “Beranak Dalam Kubur”.
3
Dinding Kelabu
Siapa lagi berani beraksi: “Kejarlah Daku, Kau Kutangkap”? Tentu saja,
karena “Rumah Masa Depan” berwajah LP, bagai “Losmen” kusam yang tak
seindah “Pondok Pak Djon”. Maaf, “Jangan Bilang Siapa-Siapa”, suara
“Orang-Orang Liar” mengumbar “Fiksi”, itu “Villa Berdarah” untuk “Biang
Kerok” di balik “Pakaian Dan Kepalsuan”. Tiada ingat “Karma” dengan
“Perhitungan Terakhir”, hingga “Permata Biru” berwajah Garut tercampak.
Karenanya, usai “Permainan Bulan Desember” berpesta demokrasi, Aceng
Fikri mengajak semua elemen masyarakat merapatkan barisan.
Sungguh, mengembalikan citra Garut, “Bukan Impian Semusim”, sebab di
saat “Bing Slamet Sibuk” bulan “November 1828”, “Rembulan Dan
Matahari” pun bersaksi bahwa Garut “Pulau Cinta”. Karena, Garut “Langitku
Rumahku”! Betapa Garut “Sesuatu Yang Indah” berlagukan “Getar Dawai
Hati”, berpayung “Kemilau Cinta di Langit Jingga” dan bertilam “Kabut
Sutra Ungu”.Semua “Anak -Anak Revolusi” dalam “Pasukan Berani Mati”,
tak takut “Raja Jin Penjaga Pintu Kereta”.Tak perduli “Hantu Jamu Gendong”
main “Tali Pocong Perawan”.
Mereka menjaga “Serangan Fajar”. Sejumlah “Perawan Di Sektor Selatan”,
termasuk “Puteri Seorang Jendral”, bagai “Mutiara Dalam Lumpur” yang tak
kenal “Musim Bercinta”. Semua tak pernah berkeluh, “Susahnya Jadi
Perawan”! Asyik saja “Bercanda Dalam Duka” di “Lantai 13”. Bahkan,
seorang “Djenderal Kantjil” pun memuja Garut bagai “Ibunda”! Karenanya,
wisatawan bak “Arjuna Mencari Cinta” untuk “Cinta Pertama”. Mereka
bertutur “Selirih Bisikan Kasih”: “Di sini Cinta Pertamakali Bersemi”.
Itu bukan “Rayuan Gombal” “Akibat Pergaulan Bebas” yang menggoda
“Impian Pengantin, karena “Kulihat Cinta Dimatanya”! Namun, “Tatkala
Mimpi Berakhir” di “Lorong Waktu”, Garut bagai “Bulan Tertusuk Ilalang”!
Orang pun kaget “Ada Apa Dengan Cinta?” Garut “Kamulah Satu-Satunya”
yang “Selalu Dihatiku”! Kau harus ”Bangkit Dari Kubur” keterpurukkan,
G A R U T “ L A N G I T K U R UMA H K U”
4
G A R U T “ L A N G I T K U R UMA H K U”
untuk menyingkap “Halimun” tebal. Andai saja tidak “Tulalit”, mungkin
Garut “Tinggal Landas Buat Kekasih”. Tanpa perlu “Dongkrak Antik” atau
“Suster Ngesot”